Clinic Photography

 

Format Medium dan Dominasi PhaseOne

 

Dalam fotografi digital saat ini, format medium sudah menjadi batas atas. Dulu, di zaman fotografi analog, format medium dinamakan demikian karena dia menjadi penengah. Di atasnya ada format besar dan di bawahnya ada format 135 serta format-format kecil lain. Dalam dunia fotografi analog, ukuran film memengaruhi mutu gambar. Memang, mutu film semakin baik sejalan dengan waktu. Akan tetapi, pada awal tahun 2000-an peningkatan mutu film harus dihentikan karena era digital sudah datang dan tak terbendung lagi. Pada era digital ini, dalam sepuluh tahun terakhir, perkembangan mutu peralatan fotografi sangat cepat. Kalau pada tahun 1997 kamera digital untuk profesional hanya berkapasitas rekam 1 megapiksel, kini telepon saku pun sudah ada yang berkamera 14 megapiksel. Dalam dunia fotografi komersial, ukuran megapiksel sering menjadi tolok ukur mutu. Kehalusan detail selalu menjadi hal yang dikejar dan dicari. Memang, format 135 yang saat ini paling banyak dianut sudah mampu mencapai 20-an megapiksel. Untuk fotografi komersial tingkat iklan majalah, format 135 masih bisa sangat berjaya. Namun, untuk fotografi komersial pada tingkat yang lebih tinggi, untuk poster-poster besar atau kertas dinding (wallpaper), misalnya, dibutuhkan format fotografi yang lebih besar. Dan di sinilah peran format medium dibutuhkan.

Punahnya format besar

Dalam era digital, format besar memang ”dimatikan” dengan cepat. Dia sempat ada, tapi dengan harga yang sangat mahal. Ukuran sensor yang besar tak mudah dibuat dan pasti menjadi terlalu mahal karena kelangkaannya. Fotografi digital dengan format besar tidak menarik karena sangat tidak ekonomis. Memang, kemampuan field camera atau kamera format besar sulit ditandingi. Dan sampai sekarang pun kamera format besar masih dipakai, tapi sensor yang merekam gambar hanyalah format medium saja, bukan format yang memenuhi total bidang rekamnya. Para produsen kamera digital kemudian ”menggenjot” perkembangan format medium sehingga kini menjadi batas atas fotografi, dan tampaknya ini akan bertahan sampai beberapa belas tahun lagi. Dalam era fotografi analog, persaingan di format medium relatif hanya terjadi pada tiga merek, yaitu Hasselblad, Mamiya, dan Rolleiflex. Hanya tiga merek ini yang bersaing ketat. Di era fotografi digital, ada perubahan sistem. Kamera lama tetap bisa dipakai, tapi dengan mengganti magasin filmnya dengan digital back. Di awal era digital, persaingan kemudian terjadi pada dua merek digital back, yaitu Leaf dan PhaseOne. Kedua merek ini bisa dipasangkan pada kamera format medium, umumnya dengan dudukan Mamiya atau Hasselblad. Namun, saat ini perubahan total sudah terjadi lagi. PhaseOne sudah membuat kamera sendiri dengan adaptasi total dari kamera Mamiya format 645, kemudian PhaseOne juga mengakuisisi Mamiya dan Leaf. Di pihak lain, Hasselblad juga langsung membuat kamera digital sendiri. Saat ini persaingan di format medium hanya berlangsung antara PhaseOne yang punya tiga merek digital back di dalamnya (PhaseOne, Mamiya, dan Leaf) dan Hasselblad sendirian. Bulan lalu, Klinik Fotografi Kompas mencoba digital back Mamiya DM-33 yang berkapasitas 33 megapiksel dengan hasil yang ada di halaman ini. Pemotretan dilakukan di Prima Imaging Studio di Kemayoran, dengan model Manda Hartawan. Lampu-lampu yang dipakai adalah set Broncolor. Hasil uji coba menunjukkan hasil yang memuaskan dalam segi kematangan warna, kehalusan detail, serta rentang dinamiknya. Dominasi PhaseOne memang begitu kuat saat ini. Namun, yang jadi pertanyaan, mungkinkah nama- nama Leaf, Mamiya, dan PhaseOne akan jadi satu nama saja? Arbain Rambey

Format Medium dan Dominasi PhaseOne

 

Dalam fotografi digital saat ini, format medium sudah menjadi batas atas. Dulu, di zaman fotografi analog, format medium dinamakan demikian karena dia menjadi penengah. Di atasnya ada format besar dan di bawahnya ada format 135 serta format-format kecil lain. Dalam dunia fotografi analog, ukuran film memengaruhi mutu gambar. Memang, mutu film semakin baik sejalan dengan waktu. Akan tetapi, pada awal tahun 2000-an peningkatan mutu film harus dihentikan karena era digital sudah datang dan tak terbendung lagi. Pada era digital ini, dalam sepuluh tahun terakhir, perkembangan mutu peralatan fotografi sangat cepat. Kalau pada tahun 1997 kamera digital untuk profesional hanya berkapasitas rekam 1 megapiksel, kini telepon saku pun sudah ada yang berkamera 14 megapiksel. Dalam dunia fotografi komersial, ukuran megapiksel sering menjadi tolok ukur mutu. Kehalusan detail selalu menjadi hal yang dikejar dan dicari. Memang, format 135 yang saat ini paling banyak dianut sudah mampu mencapai 20-an megapiksel. Untuk fotografi komersial tingkat iklan majalah, format 135 masih bisa sangat berjaya. Namun, untuk fotografi komersial pada tingkat yang lebih tinggi, untuk poster-poster besar atau kertas dinding (wallpaper), misalnya, dibutuhkan format fotografi yang lebih besar. Dan di sinilah peran format medium dibutuhkan.

Punahnya format besar

Dalam era digital, format besar memang ”dimatikan” dengan cepat. Dia sempat ada, tapi dengan harga yang sangat mahal. Ukuran sensor yang besar tak mudah dibuat dan pasti menjadi terlalu mahal karena kelangkaannya. Fotografi digital dengan format besar tidak menarik karena sangat tidak ekonomis. Memang, kemampuan field camera atau kamera format besar sulit ditandingi. Dan sampai sekarang pun kamera format besar masih dipakai, tapi sensor yang merekam gambar hanyalah format medium saja, bukan format yang memenuhi total bidang rekamnya. Para produsen kamera digital kemudian ”menggenjot” perkembangan format medium sehingga kini menjadi batas atas fotografi, dan tampaknya ini akan bertahan sampai beberapa belas tahun lagi. Dalam era fotografi analog, persaingan di format medium relatif hanya terjadi pada tiga merek, yaitu Hasselblad, Mamiya, dan Rolleiflex. Hanya tiga merek ini yang bersaing ketat. Di era fotografi digital, ada perubahan sistem. Kamera lama tetap bisa dipakai, tapi dengan mengganti magasin filmnya dengan digital back. Di awal era digital, persaingan kemudian terjadi pada dua merek digital back, yaitu Leaf dan PhaseOne. Kedua merek ini bisa dipasangkan pada kamera format medium, umumnya dengan dudukan Mamiya atau Hasselblad. Namun, saat ini perubahan total sudah terjadi lagi. PhaseOne sudah membuat kamera sendiri dengan adaptasi total dari kamera Mamiya format 645, kemudian PhaseOne juga mengakuisisi Mamiya dan Leaf. Di pihak lain, Hasselblad juga langsung membuat kamera digital sendiri. Saat ini persaingan di format medium hanya berlangsung antara PhaseOne yang punya tiga merek digital back di dalamnya (PhaseOne, Mamiya, dan Leaf) dan Hasselblad sendirian. Bulan lalu, Klinik Fotografi Kompas mencoba digital back Mamiya DM-33 yang berkapasitas 33 megapiksel dengan hasil yang ada di halaman ini. Pemotretan dilakukan di Prima Imaging Studio di Kemayoran, dengan model Manda Hartawan. Lampu-lampu yang dipakai adalah set Broncolor. Hasil uji coba menunjukkan hasil yang memuaskan dalam segi kematangan warna, kehalusan detail, serta rentang dinamiknya. Dominasi PhaseOne memang begitu kuat saat ini. Namun, yang jadi pertanyaan, mungkinkah nama- nama Leaf, Mamiya, dan PhaseOne akan jadi satu nama saja? Arbain Rambey

Format Medium dan Dominasi PhaseOne

 

Dalam fotografi digital saat ini, format medium sudah menjadi batas atas. Dulu, di zaman fotografi analog, format medium dinamakan demikian karena dia menjadi penengah. Di atasnya ada format besar dan di bawahnya ada format 135 serta format-format kecil lain. Dalam dunia fotografi analog, ukuran film memengaruhi mutu gambar. Memang, mutu film semakin baik sejalan dengan waktu. Akan tetapi, pada awal tahun 2000-an peningkatan mutu film harus dihentikan karena era digital sudah datang dan tak terbendung lagi. Pada era digital ini, dalam sepuluh tahun terakhir, perkembangan mutu peralatan fotografi sangat cepat. Kalau pada tahun 1997 kamera digital untuk profesional hanya berkapasitas rekam 1 megapiksel, kini telepon saku pun sudah ada yang berkamera 14 megapiksel. Dalam dunia fotografi komersial, ukuran megapiksel sering menjadi tolok ukur mutu. Kehalusan detail selalu menjadi hal yang dikejar dan dicari. Memang, format 135 yang saat ini paling banyak dianut sudah mampu mencapai 20-an megapiksel. Untuk fotografi komersial tingkat iklan majalah, format 135 masih bisa sangat berjaya. Namun, untuk fotografi komersial pada tingkat yang lebih tinggi, untuk poster-poster besar atau kertas dinding (wallpaper), misalnya, dibutuhkan format fotografi yang lebih besar. Dan di sinilah peran format medium dibutuhkan.

Punahnya format besar

Dalam era digital, format besar memang ”dimatikan” dengan cepat. Dia sempat ada, tapi dengan harga yang sangat mahal. Ukuran sensor yang besar tak mudah dibuat dan pasti menjadi terlalu mahal karena kelangkaannya. Fotografi digital dengan format besar tidak menarik karena sangat tidak ekonomis. Memang, kemampuan field camera atau kamera format besar sulit ditandingi. Dan sampai sekarang pun kamera format besar masih dipakai, tapi sensor yang merekam gambar hanyalah format medium saja, bukan format yang memenuhi total bidang rekamnya. Para produsen kamera digital kemudian ”menggenjot” perkembangan format medium sehingga kini menjadi batas atas fotografi, dan tampaknya ini akan bertahan sampai beberapa belas tahun lagi. Dalam era fotografi analog, persaingan di format medium relatif hanya terjadi pada tiga merek, yaitu Hasselblad, Mamiya, dan Rolleiflex. Hanya tiga merek ini yang bersaing ketat. Di era fotografi digital, ada perubahan sistem. Kamera lama tetap bisa dipakai, tapi dengan mengganti magasin filmnya dengan digital back. Di awal era digital, persaingan kemudian terjadi pada dua merek digital back, yaitu Leaf dan PhaseOne. Kedua merek ini bisa dipasangkan pada kamera format medium, umumnya dengan dudukan Mamiya atau Hasselblad. Namun, saat ini perubahan total sudah terjadi lagi. PhaseOne sudah membuat kamera sendiri dengan adaptasi total dari kamera Mamiya format 645, kemudian PhaseOne juga mengakuisisi Mamiya dan Leaf. Di pihak lain, Hasselblad juga langsung membuat kamera digital sendiri. Saat ini persaingan di format medium hanya berlangsung antara PhaseOne yang punya tiga merek digital back di dalamnya (PhaseOne, Mamiya, dan Leaf) dan Hasselblad sendirian. Bulan lalu, Klinik Fotografi Kompas mencoba digital back Mamiya DM-33 yang berkapasitas 33 megapiksel dengan hasil yang ada di halaman ini. Pemotretan dilakukan di Prima Imaging Studio di Kemayoran, dengan model Manda Hartawan. Lampu-lampu yang dipakai adalah set Broncolor. Hasil uji coba menunjukkan hasil yang memuaskan dalam segi kematangan warna, kehalusan detail, serta rentang dinamiknya. Dominasi PhaseOne memang begitu kuat saat ini. Namun, yang jadi pertanyaan, mungkinkah nama- nama Leaf, Mamiya, dan PhaseOne akan jadi satu nama saja? Arbain Rambey